shone from east


Shone From East
                                                                                                            By: Almira Qiel
                                                                                                                 part 1
Hidup adalah sejarah manusia, didalamnya terdapat coretan luka yang mewarnai seni kehidupan. Wayang, yah itulah gambaran manusia dalam hidup. Dan dimana ada wayang, pasti ada dalang yang siap menggerakkan. Kadang aku berfikir dimana letak keadilan tuhan saat menciptakan manusia?. Tangan-tangan yang tak berdosa, jiwa yang suci seolah menjadi sasaran antara satu dan lainnya.Aku tak tahu, apa arti hidup ini, apakah bergerak, diam, bahagia atau bahkan menangis?. Entahlah tapi menurutku semuanya berjalan secara berdampingan seperti halnya cinta dan benci.
Nostalgiaku mulai bergerak, selama ini aku hanya bisa menghibur diri dengan angan-angan semu yang belum juga terwujud. Bagaimana tidak?, kenyataanya rodaku belum berputar hingga detik ini. Tak terasa segelas teh panas yang kunikmati hampir habis, menuntunku kembali ke alam sadar. Ya sadar, sadar atas hidupku sekarang. Sadar bahwa aku harus menentang keadaan agar tetap hidup. Sadar, bahwa kenyataanku berbeda jauh dengan khayalanku.
Luna, yah begitulah orang memanggilku. Aku tipe gadis yang tak begitu paham akan agama dan juga pengetahuan. Bagiku Rosario perak yang menggantung dileherku sudah cukup untuk menjaga imanku.
Orang tuaku, aku tak begitu mengenalnya. Tetangga sering bilang, bahwa ayah dan ibuku bercerai saat aku masih kecil. Aku masih ingat betul, bagaiman ayah mengajariku untuk sholat dan mengaji. Tentunya kau ingin bertanya, siapa aku ini?. Akan kuceritakan kisah hidupku yang sebenarnya.
******
Nisa Kamila, itu namaku yang sebenarnya. Kakekku memberiku nama itu agar kelak aku bisa menjadi perempuan yang amat sempurna. Aku lahir dalam keluarga yang mendalami islam. Ayahku, ia adalah seorang ustadz dengan segudang pengetahuan. Dan ibuku, adalah umat nabi Muhammad yang pemurah. Lalu, bagaiman aku bisa Kristen?. Akan kutarik memori itu kembali dalam pikiranku.bangunan megah nan luas nampak berjejeran di sudut kota ini. Bukan, bukan bangunan tempat para presdir berkumpul untuk memperistirahatkan raga mereka. Tapi bangunan suci untuk para santri mengambil ilmu, agar kelak bisa disebarkan ke masyarakat. Yah, pesantern. Kisahku berawal dari sini.
*****
“abah, dimana ummi?”. Tanyaku polos
“Mila?, kamu udah selesai ngajinya?”.
“belum bah, ummi dimana bah?”.
Pada saat itu aku tak begitu tahu, bahwa abah dan ummi sedang ada masalah. Hingga saat ummi memutuskan membawaku pergi dari pesantren, aku baru sadar, bahwa hubungan mereka memang tak baik. Dan sampai detik ini, ibuku memberitahuku bahwa alas an perceraian mereka adalah karna ayahku yang menikah untuk kedua kalinya. Aku tak bisa memahami hal itu, bagaimana bisa aturan agama memperbolehkan demikian?. Dan yang membuat keluargaku hancur berantakan.
“maafkan ibu Mila, ibu terpaksa melakukan ini, tapi ibu janji, ibu gak akan memaksa kamu mengikuti keyakinan ibu”.
Kata ibuku saat ia memutuskan pindah keyakinan. Aku merasa ragu, jalan mana yang akan kupilih?, apakah ayah yang sejak kecil menuntunku mengenal Allah?, atau ibu yang melahiranku?. Dengan berat hati kuputuskan mengikuti ibu. Meskipun, aku keluar dari ajaranku, tapi dalam hatiku aku masih percaya akan tuhan. Dan kuberharap tuhan masih berbelas kasihan  padaku dengan menunjukkan jalan yang sebenarnya.




Komentar